Indonesia Cuma Satu

“Sekarang Adit sudah boleh memanggil papa nya Raisa dengan Cing Khe dan mama dengan Ceum,”ujar salah satu wakil keluarga Tan (Minggu,28 Januari). Momen ini terjadi saat ponakan saya Raisa dilamar dan bertunangan dengan Aditya Tan. Untuk keluarga besar saya peristiwa ini unik karena meskipun kami keluarga gado2 yang kental dengan Batak, Jawa, Menado namun tradisi Tiongkok merupakan hal baru. 
Sepupu saya mama nya Raisa mengontak keluarga untuk ikut dalam panitia Sanjitan yang berarti lamaran dalam budaya Tiongkok. Acara Sanjitan diawali dengan datangnya keluarga besar Tan membawa 12 macam seserahan yang harus diterima oleh pasangan suami istri berarti ada enam pasang dari keluarga Raisa. Jumlah seserahan 12 artinya lima tambah tujuh dimana lima artinya menerima dan tujuh artinya setuju. Sedangkan penerima seserahan harus suami istri yang lebih tua karena kalau masih lajang dikhawatirkan akan memberatkan jodoh lagipula untuk menghormati rombongan keluarga pelamar.
Rombongan keluarga Adit terdiri dari om, tante, kakak, adik, ponakan yang tempat duduknya telah ditentukan. Para orang tua diberikan posisi di depan begitu juga dari keluarga Raisa. Pertemuan diawali dengan upacara minum teh dimana Raisa menyuguhkan teh diberikan kepada om dan tante yang paing tua disertai urutan selajutnya. Selain teh syarat lainnya menyediakan kue mangkok dan kue pepe yang mempunyai makna tersendiri. Kue mangkok berarti merekah artinya hidup terus berkembang sedangkan pepe artinya rezeki berlapis-lapis. Kemudian dilanjutkan dengan pemasangan kalung oleh Adit dan kakak perempuan Adit kepada Raisa.Setelah itu keluarga Adit yang diwakili kakaknya Rilly atau yang biasa dipanggil Cide alias Cici gede (karena paling tua) mengumumkan bahwa sekarang keluarga Adit dan keluarga Raisa sudah menjadi keluarga besar dengan panggilan ala adat Tiongkok seperti popo, cici, koko, cihu dll.
Terakhir dilakukan acara minum kopi yang menandakan bahwa keluarga besar Adit akan pamit pulang sambil membawa seserahan untuk Adit dengan jumlah serta pengantar dan penerima yang sama.
Momen keluarga ini membuat saya bahagia karena upacara istimewa ini dilakukan dengan suasana cair dari kedua keluarga, teman dan kerabat. Bahkan boleh disebut berkumpulnya kelompok Bhinneka Tunggal Ika. Tamu yang hadir dari berbagai suku, agama, dan ras dimana ketika paham pluralisme dan kebersaman sedang diobok2 karena kepentingan politik sesaat oleh kelompok yang menghalalkan segala cara maka acara itu menjadi sangat mengharukan dan bermakna.
Saya ngajak teman2 untuk terus berbagi kisah2 mengenai kebersamaan karena Indonesia cuma satu dan harus dijaga erat2…Mohon maaf kalau dalam tulisan ini terutama mengenai budaya Sanjitan ada yang salah karena semata2 kurang paham tanpa maksud apapun…
inilah catatan kecil saya hari ini…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *